Rabu, 17 Oktober 2012

TNI AD Usul Beli Anjing Rp 900 Juta
Penulis : Sabrina Asril | Rabu, 17 Oktober 2012 | 22:52 WIB
|
Share:

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO
Ilustrasi: Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo memeriksa alat tempur dan kendaraan yang akan tampil dalam upacara peringatan Hari Juang Kartika Ke-66, Rabu (14/12/2011).

TERKAIT:
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi I DPR RI melakukan rapat kerja dengan TNI Angkatan Darat, Rabu (17/10/2012). Di dalam rapat yang membahas anggaran operisional TNI itu, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo sempat mencetuskan usulan soal pembelian 17 ekor anjing pelacak.
"Harganya 6.000 dollar AS untuk satu anjing. Kalau misal ada anggaran kami akan menyesuaikan maka tadi kan diusulkannya. Insya Allah ya semaksimal mungkin kalau dana ada kami sih oke saja," ujar Pramono Edhie, Rabu (17/10/2012), di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Berdasarkan perhitungan Kompas.com, total harga 17 anjing pelacak ini adalah 102.000 dollar AS. Jika nilai tukar dollar AS terhadap Rupiah sekitar Rp 9.500, maka anggaran yang diperlukan untuk membeli 17 ekor anjing pelacak ini adalah Rp 900.690.000. Hal ini belum termasuk biaya pemeliharaan dan pelatihan, yang juga membutuhkan alokasi khusus.
Pramono mengatakan bahwa anjing-anjing pelacak itu nantinya akan membantu kerja Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Akan tetapi, jika usulan itu diterima Komisi I, Pramono berharap agar pembiayaannya tidak dibebankan ke anggaran Paspamres soal dana pemeliharaan.
"Harus membentuk satuan lagi karena itu kan bersifat khusus. Yang sekarang ada adalah punya Kopassus. Jadi bisa juga kita berikan ke Kopassus untuk biaya pemeliharaannya, sementara Paspampres yang melaksanakan," kata jenderal bintang empat ini.
Keberadaan anjing-anjing pelacak ini cukup bermanfaat untuk melacak dan menyerang penjahat. Usulan ini belum dibahas secara serius oleh anggota DPR. Namun, jika nanti usulan pembelian anjing pelacak ini diloloskan, Edhie berharap bisa dilakukan pembelian secara maksimal untuk membantu personil Paspampres yang ada.
Editor :
Hindra

Senin, 08 Oktober 2012

Cerita Malam di Alun-alun Purwokerto

HL | 14 July 2011 | 12:13 Dibaca: 1717   Komentar: 159   6 dari 9 Kompasianer menilai menarik
1310626666680562519
Sumbr gambar: adira21.blogspot.com
“Duduk di hamparan rumput hijau bermandikan cahaya lampu sambil memandang Si Panji, seakan masuk dalam kehidupan di dua masa yang berbeda”
*
Semalam saya dan keluarga bertamasya. Tamasya asyik tapi murah meriah. Ya, refreshing memang tidak harus mahal dan jauh-jauh. Kami sekeluarga hanya duduk-duduk di alun-alun Purwokerto. Duduk sambil ngemil, menyaksikan anak-anak bermain bola atau bermain balon sabun. Ada kehangatan kebersamaan walau cuma nongkrong bersama.
Alun-alun yang di malam hari ramai dikunjungi sebagai sarana refreshing keluarga murmer ini memang mempunyai daya tarik yang eksotis. Dengan TV raksasa (videotron) dan pencahayaan lampu-lampu yang semarak, serta rumput yang terawat sehat dan rapi, letaknya pun tepat di pusat keramaian kota yang semakin modern. Ada perasaan damai, nyaman,tapi juga mistis, yang menjalari. Saat kami duduk-duduk di hamparan rumput di alun-alun Purwokerto, yang bergaya modern minimalis, sambil memandang ke arah gedung kabupaten, dimana terletak Pendopo Si Panji, bangunan yang sudah ada sejak jaman dahulu kala.
1310619588438744997
Sumber gambar: wiedpatikraja.blogspot.com
Menurut hikayatnya, Pendopo Si Panji ini sudah ada sejak tahun 1706. Dan pada saat terjadi banjir besar, Pendopo Si Panji ini menjadi penyelamat warga. Banyak warga yang selamat karena menaiki atap Si Panji, yang sampai bencana banjir itu mereda, bangunan ini tetap kokoh berdiri. Pada tanggal 7 Januari 1937 ibukota Kab. Banyumas dipindah dari Banyumas ke Purwokerto dikarenakan alasan Banyumas sering terkena banjir luapan dari Sungai Serayu. Proses pemindahan ibukota ini menjadi peristiwa budaya bernilai tinggi dan penuh perjuangan. Dalam pemindahan ibukota, semua perlambang pemerintahan pun harus turut disertakan, termasuk pilar Si Panji pun ikut diboyong. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk memindahkan Pilar Si Panji dan hal tersebut dipercaya oleh masyarakat Banyumas sampai dengan saat ini, yaitu Pilar Si Panji tidak boleh dibawa menyeberangi Sungai Serayu. Akhirnya diputuskan pemindahan Pilar Si Panji dengan membawanya pada bagian hulu Sungai Serayu di wilayah Pegunungan Dieng, memutari Sungai Serayu untuk dibawa ke Kota Purwokerto.
Kembali lagi ke alun-alun Purwokerto, sekarang memang terlihat lebih modern dibandingkan sebelumnya. Direnovasi pada tahun 2008, sempat menuai pro dan kontra dari masyarakat, khususnya masyarakat pecinta budaya dan tradisi.
13106192221672568790
Alun-alun dan Pendopo Si Panji, sumber gambar: wikimapia.org
Dari sejak dahulu kala, bentukan alun-alun di beberapa kota sekaresidenan Banyumas ini memiliki format yang mirip-mirip. Alun-alun terbagi menjadi dua dengan penyambung (kalau tidak mau disebut pemisah) sebuah jalan di tengah-tengahnya. Dipusat alun-alun terdapat dua pohon beringin besar dengan akar-akarnya yang menggelantung. Asyik sih buat main tarzan-tarzanan hehe.
Nah, saat Bp. Bupati Mardjoko mencanangkan renovasi, dengan perubahan formatnya, dimana alun-alun itu disatukan menjadi satu lapangan luas, tentu banyak yang kontra, khususnya mengenai keberadaan dua pohon beringin di pusat alun-alun yang harus dihilangkan.
Renovasi terus berjalan dan pemerintah daerah sepertinya juga sungguh-sungguh dalam
merealisasikan simbol kota yang nyaman dan terawat. Ini terbukti dari intensitas perawatan rumput dan tanaman disekitarnya. Juga sarana dan prasarana yang tersedia, yang pastinya
membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.
13106192971857531363
Sumber gambar: sekarlangit.blogspot.com
Sayangnya, masih saja ada segelintir orang yang menyia-nyiakan keindahan alun-alun Purwokerto ini dengan kemalasannya. Malas membuang sampahnya sendiri. Masih terlihat bertebaran plastik pembungkus makanan atau koran/kertas yang digelar untuk dudukan. Sebetulnya tidak susah kok kalau memang niat, dan kalau masing-masing orang mau sadar. Tinggal dikumpulkan sampah-sampah tersebut (sampah masing-masing saja), dicangking saat mau pulang. Toh gerobak sampah sudah banyak tersedia disekitaran alun-alun. ***

Jumat, 28 September 2012

Traditional Food From Banyumas

Soto Legendari Sokaraja "Soto Sutri"

0.0/5 rating (0 votes)
Kategori : Wisata Kuliner Jumlah Kunjungan : 130
Soto Legendari Sokaraja
Lokasi yang strategis, Promo di segala media dan menjadikan omzet penjualan meningkat up to 300%?? Nampaknya hal ini belum berlaku pada Soto Sutri khas Sokaraja yang sudah melegendaris bagi wisatawan kuliner khususnya warga Banyumas, meski berlokasi di gang sempit di wilayah kuliner Sokaraja. Sotosutri dalam jam operasionalnya tidak menentu bahkan tidak melayani konsumen hingga 7x24 jam, pokoknya sehabisnya porsi yang disediakan untuk penjulan hari bersangkutan maka warung soto ini pun tutup (Siapa cepat dia dapat).
Soto Sokaraja umumnya menggunakan saus kacang sebagai sambalnya.  Jika anda membayangkan rasa saus kacangnya itu sendiri, manis gurih. Soto Sokaraja sendiri berserakan di sepanjang Sokaraja, tapi dari deretan tersebut dan bersendiri di gang kecil soto Sutri ini justru berlokasi dan dengan tempat penjualan seperti rumah biasa. Soto Sutri ini tampil memukau bak pelangi dipotong-potong dan diurai dalam satu mangkok.  Tabur warna merah kuning, hijau bernuansa dominan dalam sajian soto. Lalu diantara yang warna warni itu juga terdapat pesona daging sapi dengan jumlah yang cukup murah melimpah dengan bersanding taoge yang hijau pasi. Pengunjung umumnya menambahkan ketupat sebagai pengganti nasi agar kenyang (barangkali ga PD nambah lagi). Dengan komposisi manis, asin, pedas yang berimbang dengan gurihnya saus kacang sebagai sambal menjadikan candu tersendiri bagi penikmat kuliner sendiri untuk berkali datang menikmasi sensasi soto Sutri.
Untuk nongkrong makan di soto sutri janganlah membawa pribadi yang sok ekslusif karena disini jual cita rasa kuliner sejati, bukan jual tempat mewah dan property.

jumenengan

Pengetan Jumenengan Adipati Warga Utama II

0.0/5 rating (0 votes)
Kategori : Tradisi dan Budaya Jumlah Kunjungan : 72
Pengetan Jumenengan Adipati Warga Utama II
Banyumas, 15 Agustus 2012 - Pengetan (peringatan) Adipati Warga Utama II ( Adipati Mrapat) merupakan aktifitas tahunan yang diselenggarakan masyarakat Banyumas dalam rangka memperingati pengangkatan Raden Semangoen (Raden Djaka Kahiman) sebagai adipati Wirasaba yang bertepatan pada tiap tanggal 27 Ramadhan.
Acara diselenggarakan pada 14 Agustus 2012 di Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas dengan suasana sederhana dengan bernuansa tradisional dan dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat di Banyumas.
Rangkaian kegiatan dalam acara ini antaranya adalah mlaku bisu yaitu melakukan jalan kaki mengelilingi komplek pendopo duplikat Si Panji dengan berdiam diri seraya memanjatkan doa dalam hati. Adapun kegiatan lain dari acara ini yaitu doa bersama untuk mengenang jasa dan perjuangan Raden Semangoen dan pertunjukkan ketoprak lungguh yang membawakan kisah tentang sejarah pengangkatan Raden Semangoen menjadi Adipati Wirasaba dan membagi wilayahnya menjadi 4 bagian.
Inti utama dari acara ini adalah mengenalkan kembali sosok Raden Warga Utama II atau yang juga di kenal sebagai Adipati Mrapat dan mengajak kembali kepada masyarakat untuk membangun kembali jiwa dan perilaku sosial yang bersumber pada kearifan lokal dan menjaga warisan budaya Banyumasan.

Karya Anak Banyumas

Antologi Cerpen "Cindaga" di Launching

0.0/5 rating (0 votes)
Kategori : Kasak Kisik Jumlah Kunjungan : 65
Antologi Cerpen
Banyumas, 16 September 2012 - 14 Penulis Banyumas yang yang tergabung dalam kelompok PENA MAS telah meluncurkan antologi cerpen yang berjudul Cindaga yang mengambil salah satu cerpen “Cindaga” karya Setijanto Salim.Peluncuran buku ini dilaksanakan di Mercusii Cafe yang berada diwilayah Wisata Bendung Gerak Serayu yang dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat.
Buku ini merupakan bentuk ekspresi para menulis dalam mengaktualisasi pemikirannya melalui cerpen yang menggambarkan peristiwa-peristiwa di Banyumas dari masa 40'an hingga sekarang. Berbagai peristiwa pun diulas baik dari sisi sejarah, budaya lokal hingga kebiasaan masyarakat Banyumas dalam berkehidupan sosial pada masa lalu.
Cindaga adalah nama sebuah jembatan yang melintasi Sungai Serayu, Banyumas. Dengan buku ini pembaca akan menemukan banyak gambaran tentang beragam peristiwa yang terjadi di masa lalu di wilayah Banyumas.
Buku ini menyuguhkan 17 cerpen. Adapun judul cerpen yang ada di buku ini antaranya “Cindaga”, “Tilas Kenangan Sang Patriot”, “Syomin Ginko”, “Hulp en Spaarbank der Inlandsce Bestuurs Ambtenaren”, “Khianat”, dan “Kembalikan Tanah Kami!”, dll.

Kamis, 27 September 2012

Cowongan

Tradisi Minta Hujan Di Musim Kemarau
Kondisi kemarau panjang di Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas benar-benar telah mengeringkan seluruh lahan pertanian. Benih padi yang baru beberapa minggu sebelumnya ditanam, telah menguning di batang dan pucuk daunnya. Sementara di sebagian sudut desa, sumber-sumber air pun telah berkurang dan berwarna keruh kecoklatan akibat tercampur tebalnya debu. Di saat seperti inilah warga Rawalo hanya bisa memohon kemurahan Yang Maha Kuasa melalui Dewi Sri (dewi padi) agar sesegera mungkin hujan diturunkan melalui tradisi meminta hujan yang telah diwariskan turun-temurun oleh moyang mereka yaitu Cowongan.
Hampir mirip dengan jelangkung, cowongan dibuat dari irus atau gayung dari tempurung kelapa, kukusan, kayu, dan bambu, yang disusun menyerupai boneka pengusir burung yang dipasang di tengah-tengah sawah, cowongan juga dilengkapi dengan pakaian yang didominasi warna hitam dan corak batik kecoklatan.
Menurut Mbah Kitem, sesepuh desa yang juga sebagai pawang hujan, sebelum melaksanakan tradisi itu, harus ada syarat yang wajib dipenuhi. Seluruh rangken (bekas jari-jari atap rumah dari bambu) yang masih difungsikan warga harus dimusnahkan. ”Itu permintaan dari Dewi Sri. Warga harus menyanggupi karena menurut Dewi Sri batang bambu yang sudah rusak akan menahan turunnya hujan,” ujar sang pawang.
Hingga pada suatu malam di puncak musim kemarau, Hadi Santoso, Kasbi, Ahmad Sukandar, dan para tokoh sesepuh desa lainnya, terlihat begitu sibuk membuat sebuah boneka cowongan. Sementara di halaman depan, belasan pemuda tengah membersihkan peralatan musik khas jawa yang biasa disebut gamelan. Peralatan tersebut disiapkan untuk mengiringi doa-doa permohonan hujan dalam ritual cowongan yang akan digelar hanya pada malam hari. Sedangkan bagi seluruh warga yang terlibat dalam hajatan besar tersebut, melaksanakan syarat yang diajukan oleh Mbah Kitem. Semua rangken di lingkungan kampung dan sawah diambil. Lalu dimusnahkan di samping lahan pekuburan milik desa. Uniknya, warga hanya boleh melakukan pembersihan ini pada malam hari, sesaat sebelum cowongan dimulai itupun dengan penerangan cahaya obor.
Saat waktu telah menunjukkan pukul 21.00 wib, pelataran luas di depan rumah sesepuh desa pun telah dipenuhi oleh ribuan warga setempat dan daerah sekitar yang tertarik melihat tradisi yang sangat jarang dilakukan. Tidak hanya kalangan tua yang hadir dalam prosesi ini, para pemuda dan anak-anak juga sudah rela berdesak-desakan di samping panggung tempat ritual cowongan akan digelar. Dari sekian banyak penonton yang datang, ternyata tidak ada satupun yang mengenakan busana berwarna merah. Menurut mereka, warna merah dapat mengundang kemarahan dari arwah yang hadir dalam prosesi tersebut karena merasa ditantang sehingga si pemakai busana merah seringkali kerasukan.
Sekitar pukul 22.00 wib, ritual pun dimulai. Tiga orang wanita muda keluar dari rumah Mbah Kitem dengan diiringi belasan wanita dan lelaki separo baya. Secara bersamaan, tiga gadis muda ini memegangi tali stagen yang semua bagian ujungnya diikatkan pada cowongan. Syarat untuk menggendong boneka cowongan pun haruslah para wanita yang masih perawan. Selain itu, saat prosesi dilakukan, mereka harus dalam keadaan suci atau tidak sedang datang bulan.
Seiring dengan keluarnya tiga penari ini, sayup-sayup terdengar suara nyayian jawa yang merupakan bagian dari doa-doa agar roh Dewi Sri dan Dewi Larasati (dewi kesejahteraan) bersedia memasuki boneka cowongan dan berkomunikasi dengan warga agar permasalahan kekeringan yang melanda dapat teratasi.
”Cowong-cowong penentang, penintange tali gandek, gandek mandek-mandek, midondangi jaluk pitulung marang Nyi Ratu, kanggo njaluk udan, ayuh gagiyan reg-regan rog-rogan”. Begitu seterusnya sambil sesekali diselilingi lagu Lir-ilir.
Tidak lama berselang, boneka cowongan mulai bergetar dan bergerak tidak tentu arah mengikuti liukan asap dupa. Gerakan boneka ini terlihat sangat merepotkan para gadis yang memegangnya. Terkadang mereka harus rela berlari menuju kerumunan penonton demi menuruti keinginan roh dalam cowongan untuk sekedar menunjukan eksistensi alam mereka dalam berinteraksi dengan alam manusia.
Apakah ada pertanda dari alam jika keinginan warga untuk mendapatkan hujan akan terkabul? Menurut Mbah Kitem, sesuai dengan tradisi yang telah ada, biasanya sebelum ritual cowongan berakhir, akan bertiup angin dingin serta muncul kilat dari arah gunung Slamet.
Apabila pertanda itu telah muncul, hanya dalam beberapa waktu setelah cowongan selesai dilaksanakan, biasanya hujan akan turun,” tutur Mbah Kitem.

COWONGAN

 
COWONGAN: SALAH SATU BENTUK WISATA BUDAYA DALAMINDUSTRI PARIWISATA DI BANYUMAS
ABSTRACT
 For the society of Plana village Cowongan is an obligation to alwaysdone as ask for rain ritual every long dry season. It has strong connection withthe life of Plana village that most their livelihood as farmer and gardener. Sothat, water is primary resourcefor them that their farm land is a farm to catch therain. The rain on dry season become something really valuable for the society of  Plana village. Cowongan is one of ritual kinds or ask for rain ritual donebypeople in Banyumas and surrondings.
A.Latar Belakang

Pengembangan pariwisata merupakan pengembangan yang sangat terkaitdan tidak dapat dipisahkan dengan sektor-sektor lainnya. Sektor yang paling eratkaitannya adalah yang berhubungan dengan pelestarian dan pengembangankebudayaan daerah, yang bisa diandalkan sebagai objek dan daya tarik wisata.Baik wisata alam maupun wisata budaya.Wisata budaya merupakan salah satu aset pariwisata yang dijadikanandalan suatu daerah. Sebab wisata budaya berhubungan dengan peninggalansejarah, adat istiadat, dan kebiasaan masyarakat yang dilaksanakan pada hari-haridan bulan-bulan tertentu.Salah satu wujud wisata budaya adalah kesenian daerah yang sangatmenyatu dengan alam. Sebab dalam kehidupan masyarakat, masih ada anggapan bahwa alam memiliki kekuatan yang dapat memberikan pengaruh bagi kehidupanmereka baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Oleh karena itu, manusiamelakukan pendekatan atau berkomunikasi dengan alam dengan melakukansesaji, sesembahan, ritual-ritual, dan lain-lain dengan harapan alam bermurah hatimemberi kesempatan kepada mereka untuk hidup lestari. Dalam rangka pendekatan tersebut manusia seringkali menggunakan media kesenian dalamupacara-upacara untuk mencapai tujuannya. Melalui aktivitas seni inilahmasyarakat melakukan ritual-ritual tertentu yang bermakna sebagai bentuk  persembahan seluruh jiwa dan raga terhadap Sang Pencipta

BEGALAN

Begalan Tradisi Banyumas Kontribusi Dari Amin Hidayat Tuesday, 08 December 2009 Istilah begalan, berasal dari kata begal, artinya sama dengan perampok. Jadi orang yang pekerjaanya merampas barang orang lain disebut merampok atau membegal. Begalan bukan berarti merampas barang orang lain, tetapi justru hakekatnya menjaga keselamatan apabila nanti ada roh-roh jahat datang untuk mengganggunya. Istilah begalan di sini sebagai syarat atau krenah/ pengruwat guna menghindari segala kekuatan-kekuatan gaib yang mengancam keselamatan kedua mempelai. Begalan diartikan dengan ucapan kebegalan sambekalanipun, maksudnya dijauhkan dari segala mara bahaya, ............... Seni begalan dipertunjukkan apabila seseorang mempunyai hajat mengawinkan anak sulung dengan anak sulung, anak bungsu dengan anak sulung atau anak bungsu dengan anak bungsu. Hal semacam itu merupakan suatu pantangan, apabila perkawinan seperti itu terjadi, perlu diadakan begalan. Seni begalan ini biasanya dilakukan pada sore hari, kurang lebih pukul empat sore. Pada umumnya orang Jawa tidak lepas dari perhitungan-perhitungan menurut cara kejawen atau kepercayaan naluri. Segala sesuatu diperhitungkan dengan teliti, baik waktu, hari, bulan sampai tahun. Sebenarnya seni begalan pada jaman dahulu diadakan oleh para demang, dimana kekuasaan demang pada waktu itu adalah mutlak berbuat seperti raja. Setiap perintahnya harus cepat atau segera dilaksanakan. Itu, rakyat beranggapan bahwa seni begalan adalah merupakan warisan dari para leluhur Banyumas yang tidak boleh ditinggalkan. Oleh karena sangat taatnya sehingga seseorang yang sebenarnya kurang mampu untuk mengadakan hal itu lalu mengada-ada. Mereka beranggapan apabila dapat mengadakan hal tersebut di atas mereka bangga dan terpandang. A. Prosesi Opera Begalan Syarat tentang tempat untuk keperluan pertunjukkan tidak memerlukan tempat yang khusus atau mewah. Tidak perlu mendirikan panggung, cukup dihalaman rumah, tanpa dekor. Tata pakaian dan tata rias sangat sederhana. Pakaian cukup baju koko hitam, celana komprang hitam, stagen dan sabuk, kain atau sarung, sampur dan iket wulung (hitam). Sedang perlengkapan yang dipergunakan yaitu Wlira dan Brenong Kepang. Wlira yaitu alat yang berujud pedang, dipergunakan sebagai pemukul. Panjang Wlira 1 meter, tebal 2 centi meter dan lebar 4 centimeter. Bahan yang dipergunakan dari ruyung atau pohon pinang. Pembawa Wlira adalah si begal dari pihak mempelai wanita dengan nama Suradenta. Pengantar mempelai laki-laki yang membawa peralatan-peralatan Brenong Kepang bernama Surantani atau Jurutani. Brenong Kepang merupakan sepikul alat-alat dapur. Masing-masing alat-alat dapur itu memiliki makna kias tersendiri. Adapun macam-macam alat dapur tersebut yaitu wangkring atau pikulan, ian dan ilir, cething, kukusan, kalo, tampah, sorok, cethong, irus, siwur, kendil, pala pendem, pala gumantung, dan seikat padi. Kebiasaan orang Banyumas, sebelum pertunjukkan dimulai didahului dengan mengadakan (menyajikan ) sesajen dengan membakar kemenyan disertai pembacaan mantra-mantra. Maksud sesajen itu supaya selama berhajat dan waktu mempelai disandingkan selamat, tidak ada gangguan apapun juga. Macam sesajian yang biasa diadakan yaitu : 1. Tumpeng sewu, yaitu tumpeng kecil yang jumlahnya seribu. Tetapi di sini tidak harus berjumlah seribu, arti bilangan seribu hanya untuk menunjukkan jumlah banyak. 2. Panggang emas, yaitu panggang dari ikan emas yang dibakar tidak diberi bumbu. 3. Kembang telon, yaitu bunga yang tediri dari tiga macam; bunga mawar merah, bunga kanthil, dan bnga kenanga. 4. Pisang, meliputi pisang ambon, pisang emas dan pisang raja. 5. Candu 6. Wedang pitu, yaitu tujuh macam minutan; kopi pahit, kopi manis, teh pahit, teh manis, air putih, air bunga dan wedang jembawuk. 7. Bubur abang dan bubur putih, nasi lembek (bubur) warna merah dan putih. 8. Rakan 9. Krawu menir, yaitu nasi menir yang diberi kelapa. MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49 10. Kaca pengilon dan pupur (bedak) 11. Pepesan bekatul 12. Minyak Wangi 13. Kemenyan 14. Tebu 15. Cengkir Gading (kelapa muda gading) 16. Beras kuning 17. Ayam tulak, yaitu ayam berbulu hitam semuanya, hanya pada sayapnya saja yang ada sedikit putih. 18. Dawegan kelapa hijau, yaitu kelapa muda kulitnya berwarna hijau. Macam-macam sesajian ini biasanya diletakkan ditempat yang tidak terjangkau oleh pengunjung atau tamu. Sering ditempatkan di bagian dapur atau dekat mempelai disandingkan. Jalannya pertunjukkan, kedua penari Suradenta dan Surantani dengan membawa peralatannya masuk sambil menari ke tempat pentas diiringi gendhing kricik-kricik. Setelah gending suwuk (berhenti), salah satu dari penari, biasanya Suradenta, memperkenalkan diri, menceritakan maksud dan tujuannya mengadakan begalan. Penari berdialog menanyakan nama dan maksudnya, lalu minta gendhing Gunungsari. Di sinilah Surantani menjelaskan panjang lebar sanepa (makna kias) dari semua isi brenong kepang. Satu persatu dijelaskan dengan jelas arti dari Ian, ilir sampai seikat padi atau hasil bumi. Intinya berisi nasehat untuk mempelai berdua dalam membangun rumah tangganya agar nantinya langgeng sampai kakek-kakek nenek-nenek. Saat terjadi pertengkaran adu mulut, diiringi gendhing Pisang Balik. Pada waktu gendhing suwuk, pertengkaran berbuntut perkelahian diiringi gendhing Renggong Kulon. Selesai perkelahian, diakhiri dengan pemecahan kendil yang berisi beras kuning, pertanda rejeki bagi mempelai kelak akan senantiasa melimpah, kemudian isi brenong kepang diperebutkan oleh penonton. Mereka meyakini, bila mendapat barang dari brenong kepang akan mendapat sawab ( berkah ). Alunan gendhing Eling-eling Banyumasan mengakhiri opera begalan ini. Maka tampak jelas, seni begalan di Banyumas memiliki kekhasan tersendiri. Baik masalah pemeran, perlengkapan, maupun penyajian ternyata memiliki keunikkan dan penuh perhitungan yang dikaitkan dengan kesakralan. Hal seperti ini tidak dijumpai di daerah lain, kecuali semacam upacara ruwatan melalui pertunjukkan wayang. Menurut Ki Sugino Siswocarito, begalan dalam dunia pewayangan pada perang kembang atau perang sintren sangatlah berbeda. Perang kembang dalam pewayangan adalah peperangan antara seorang ksatria melawan raksasa atau biasa disebut buta begal. B. Kajian Fungsi 1. Fungsi Historis Fungsi historis adalah menurut tinjauan sejarah, mengenai asal usul seni begalan di Banyumas sekitar abad ke 19, yaitu sejak Adipati Banyumas mengawinkan putranya Pangeran Tirtokencono dengan putri bungsu Adipati Wirasaba yaitu Dewi Sukesi. Seminggu setelah perkawinan sang Adipati Banyumas berkenan memboyong putranya dari Wirasaba ke Kadipaten Banyumas, istilah Jawa disebut ngunduh penganten. Perjalanan ke Banyumas ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 20 kilometer. Di daerah hutan belantara yang terkenal angker/ wingit, tiba-tiba mereka dicegat oleh orang yang berpakaian hitam, celana komprang hitam, berikat kepala dan membawa golok. Orang tersebut bermaksud hendak merampas semua barang, alias merampok atau membegal. Mata terjadilah pertengkaran mulut dilanjutkan perkelahian. Akhirnya begal dapat dikalahkan, lari tunggang langgang tanpa dikejar. Setelah pagi hari sampailah mereka di Kadipaten Banyumas. Riwayat perjalanan boyongan mempelai dari Wirasaba ke Banyumas menjadi pelajaran berharga. Kemudian sesepuh Banyumas berpesan seyogyanya apabila mengawinkan anaknya yang sulung mendapat jodoh anak bungsu agar diadakan Begalan supaya selamat. Tahun timbulnya seni Begalan di Banyumas sulit ditentukan, mengingat Adipati di Banyumas sendiri ada 17 turunan. MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49 Pada buku Sejarah Banyumas, yang disusun oleh S. Adisarwono dan Bambang S. Purwoko, (1992: 39) secara kronologis menyajikan data para Adipati/ Bupati yang bergantian menjabat di kabupaten Banyumas, yaitu : 1. R. Djoko Kaiman / R. Djoko Semangun/ R. Adipati Warga Utama II mendapat julukan Adipati Marapat tahun 1582. 2. R. Ngabehi Mertasura I/ R. Adipati Djanah I tahun 1583 – 1600. 3. R. Ngabehi Mertasura II / R. Adipati Djanah II, dijuluki R. Ngabehi Kaligethuk, tahun 1601-1620. 4. R. Adipati Mertajoeda I / R. Ngabehi Bawang, tahun 1620 – 1650. 5. R. Tumenggung Mertajoeda II, R.T Mertanegara/ R.T. Kokoem/ R.T. Seda Mesjid, nama paringan R. Tumenggung Joedanegara I tahun 1650 – 1705. 6. R. Tumenggung Soeradipoera, tahun 1743-1749. 7. R. Tumenggung Joedanegara II (Seda Pendapa) tahun 1708 – 1743. 8. Raden Tumenggung Reksaprodjo, tahun 1743-1749. 9. R. Tumenggung Joedanegara III, tahun 1749 – 1755, kemudian diangkat menjadi Patih kasultanan Yogyakarta dengan nama Danoeredjo I. 10. R. Tumenggung Joedanegara IV tahun 1755 – 1780. 11. R. Tumenggung Tedjakusuma tahun 1780-1788, beliau bukan darah Banyumas tetapi berasal dari Mangkunegaran Surakarta, mendapat sebutan Tumenggung Kemong. 12. R. Tumenggung Joedanegara V tahun 1788-1816. Setelah beliau, Kabupaten Banyumas dibagi menjadi dua wilayah yaitu Kasepuhan dan Kanoman, masing-masing diperintah oleh kepala wilayah dengan sebutan Wedana Bupati. 13. a. R. Adipati Tjokrowedono tahun 1816 – 1830, beliau berasal dari Surakarta Wedana Bupati Kasepuhan membawahi daerah Adiredja, Adipala, Purwokerto sebagian daerah Kabupaten Panjer atau Kebumen, sebagian Kabupaten Banjarnegara. b. R.T. Mertadiredja/ R. Adipati Brotodiningrat tahun 1816-1830, Wedana Bupati Kanoman membawahi daerah Panjer/ Kebumen, sebagian Banjarnegara. 14. R.T mertadiredja II tahun 1831 – 1832 kemudian dipindah menjabat Bupati Purwokerto berkedudukan di Ajibarang. 15. R. Adipati Tjakranegara I tahun 1832-1864 (keturunan Kasepuhan) 16. R. Adipati Tjakranegara II, tahun 1864-1879 (keturunan Kasepuhan) 17. Kanjeng Pangeran Arya Mertadiredja III tahun 1879-1913 (pindahan dari Purwokerto). Berdasar sejarah banyumas, maka asal usul seni begalan, sekitar abad ke 19, berarti bertepatan masa pemerintahan Kanjeng Pangeran Arya Mertadiredja III. Masa pemerintahannya paling lama, 53 tahun. Beliau wafat tanggal 19 Maret 1927, dimakamkan di Kalibagor, 2 km sebelah barat kota Purwokerto. 2. Fungsi Religi Menurut orang Banyumas, seni begalan erat kaitannya dengan religi, yaitu kepercayaan seandainya tidak diadakan begalan mempelai akan terancam oleh kekuatan-kekuatan yang ada di luar diri mereka. Dalam hal ini seperti ruwatan, bila tanpa ruwatan akan menjadi mangsa Bethara Kala. Dahulu para pemain seni Begalan tidak dibayar atau hanya sekedar menolong saja, sebab mereka menginsafi bahwa hal itu adalah merupakan kepentingan upacara adat. Jadi mereka dianggap sebagai pawang, sebagai orang yang dapat mendekati leluhur atau roh-roh halus agar supaya jangan mengganggu jalannya upacara perkawinan (Supriyadi.1993: xii). MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49 Kebiasaan orang Banyumas, sebelum pertunjukkan seni begalan dimulai, didahului dengan mengadakan sesajian (sajen), dengan membakar kemenyan disertai pembacaan mantra-mantra. Maksud sesajian itu supaya selama berhajat dan waktu mempelai disandingkan selamat, tidak ada gangguan apapun juga. 3. Fungsi Pendidikan Tujuan utama seni begalan justru banyak dari fungsi pendidikan khususnya bagi mempelai berdua. Intinya berisi nasehat dari Suradenta dan Surantani supaya mempelai dalam berkeluarga nanti dapat rukun dan damai, seperti pepatah Jawa mengatakan, ’kaya dene mimi lan mintuna nganti tekan kaken-kaken ninen-ninen’, yang artinya hidup rukun sampai akhir nanti. Brenong Kepang dan Wlira ternyata memiliki sanepo atau makna kias tinggi yang bermuatan pendidikan. Menurut Dibyo Suwignyo, pemeran Suradenta, bahwa : 1. Wlira, menggambarkan orang yang bersenjata wlira sebagai sosok yang berani menghadapi segalanya yang menyangkut keluarga, dan bertanggung-jawab. 2. Wangkring atau pikulan, maksud yang terkandung adalah apabla seseorang akan menjalankan hidup bersuami istri sebelumnya harus dipertimbangkan terlebih dahulu, supaya nanti bila menghadapi keadaan enak atau tidak enak dipikul bersama-sama. 3. Ian-ilir, biasanya untuk membuat nasi angi atau nasi golong, memiliki arti bahwa dengan bersuami istri berarti menggabungkan 2 keluarga besar menjadi satu, dan supaya dapat membedakan mana perbuatan buruk mana perbuatan yang baik. Ilir biasanya untuk mengipas agar nasi cepat dingin, maksudnya dalam berkeluarga yang satu emosi, yang lainnya dapat mendinginkan. Ian menggambarkan lebarnya jagad, dari Baratke Timur, Utara ke selatan, artinya dalam berkeluarga harus bisa bermasyarakat. 4. Siwur, bila isnya penuh airnya akan tumpah (Banyumas : mawur), maknanya bila memiliki banyak rejeki, sebagian harus diibadahkan, jangan boros. 5. Ciri dan Muthu ( Cobek dan ulegan), fungĂ­s menggerus bumbu, ada garam, cabe, gula, trasi, bawang memiliki arti mempelai memiliki dua pemikiran yang berbeda harus bisa menjadi satu rasa, segala sesuatu diselesaikan dengan musyawarah. 6. Kusan (kukusan), memiliki sudut 5, ujungnya lancip menggambarkan Ibadan sholat lima waktu, untuk mencapai tujuan karena sang Maha Kuasa. Gunanya untuk menanak nasi, artinya sebelum membuat keputusan dalam keluarga harus dipikir sampai matang. 7. Kendil berisi beras kuning, terbuat dari tanah fungsi kendil mengambil air, melambangkan bahwa kita dari tanah, sebelum kembali ke tanah harus menimba sebanyak-banyaknya amalan untuk sangu di akherat. Beras kuning, bebasan kinuber ing seger waras, kabeh laku kudu tansah di ening... Artnya sebelum kita melakukan apapun, agar selamat harus berdoa pada yang Maha Kuasa. 8. Irus, kreta basa aja iri terus, artinya mempelai nantinya harus bisa menahan godaan hawa nafsu terhadap lingkungan, jangan iri, dengki dan sombong. 9. Pala pendem, dan padi memiliki makna bahwa suami wajib memberi nafkah istri, padi yang semakin berisi dan menunduk artinya tidak boleh sombong, dan suami atau istri harus mantap tidak boleh tergoda lelaki atau perempuan yang lain. 4. Fungsi Sosial Tradisi atau ketentuan adat bila tidak dijalankan, oleh masyarakat khususnya Banyumas terkait dengan seni begalan akan menjadi gunjingan atau cibilan. Lingkungan akan mendiga-duga gerangan musibah apa yangakan menimpa mempelai yang seharusnya ada ketentuan begalan tetapi tidak melakukan. Namun sebaliknya bila melakukan ketentuan adat dengan mengadakan begalan, masyarakat sekitar akan ikut senang, minimal bisa melihat tontonan begalan sebagai hiburan. Seseorang merasa bangga apabila dapat menjalankan tradisi yang dianggap wewaler darinenek moyangnya. Di mata masyarakat, status sosial dipandang terhormat dan merasa terpandang. MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49 5. Fungsi Kesenian Seni begalan merupakan opera rakyat Banyumas yang syarat dengan nilai seni. Dari cara berpakaian menggunakan sampur, wajah di rias ssuai karakter. Suradenta biasanya dirias dengan karakter galak atau sangar. Perlengkapan seperti wlira dan brenonng kepang juga ditata sedemikian rupa dan dihias. Prosesi atau penyajian diwarnai tarian, diaog yang menegangkan bercampur kocak akting pelaku.Ini semata merupakan hiburan penolak bala pada upacara pernikahan. Apalagi diiringi seperangkat gamelan yang mengalunkan gendhing-gendhing Banyumasan. Dialog Suradenta dan Surantani yang dramatis diikuti tariannya yang mengikuti gendhing, semakin enak sebagai hiburan. Terkadang diseliki banyolan kocak dan tarian lucu membuat penonton terpingkal-pingkal. Pada akhir pertunjukkan beramai memperebutkan isi Brenong Kepang. 6. Fungsi Ekonomi Seni begalan sebagai tontonan tentunya akan mengundang pengunjung. Suara gendhing seakan memanggil masyarakat di sekitar untuk hadir. Laki-laki-perempuan, tua –muda, besar – kecil berbondong-bondong untuk menonton. Hal ini terjadi jaman dulu, saat Banyumas belum mengenal televisi, apalagi internet. Mereka sangat haus hiburan, sehingga upacara perkawinan, apalagi ada seni begalan merupakan tontonan gratis yang sangat menghibur. Dengan banyaknya penonton otomatis banyak orang mengais rejeki melalui berdagang. Bermunculan pedagang kagetan (dadakan) menjual makanan tradisional, mainan anak-anak sampai peralatan dapur. Keuntungan yang mereka dapatkan cukup besar. Maka seni begalan waktu itu memiliki fungsi ekonomi. Secara ekonomis, pengadaan opera begalan lebih hemat dibanding pengadaan pagelaran wayang bagi sipunya hajat ruwatan. Pagelaran wayang bisa memakan dana lima sampai sepuluh kali lipat dibanding biaya untuk begalan. Dewasa ini, biaya begalan untuk pelaku dan oborampe cukup menghabiskan Rp. 500.000,00 – Rp. 1.000.000,00 sedangkan untuk pengadaan pertunjukkan wayang bisa menghabiskan lebih dari Rp. 12.000.000,00. Opera begalan untuk saat ini sudah cenderung sebagai profesi dengan tarif tertentu bagi pemeran. Dari segi ekonomi, bagi pemeran sekali main cukup menguntungkan. Jika satu bulan dapat order 5 kali main, pemeran Surodenta dan Surontani dapat mengantongi Rp. 1.500.000 bersih dalam satu bulan. C. PENUTUP Seni begalan di Banyumas merupakan pertunjukkan sebagai ketentuan adat yang digunakan untuk meramaikan upacara perkawinan. Kekhasan dan mutu seni begalan masyarakat Banyumas memiliki muatan multi fungsi, maka sangatlah layak dikatakan sebagai Kebudayaan Nasional Indonesia, sebagaimana rambu-rambu yang dikemukakan Kuntjaraningrat. Fungsi seni begalan masyarakat Banyumas bila dipahami lebih jauh memiliki pembelajaran jauh ke depan, terutama bagi mempelai berdua. Bila tidak diselenggarakan begalan, kedua mempelai kurang atau buta akan hakekat kehidupan berumah tangga. Fungsi pendidikan disini sangat berperan dan bermanfaat bagi mempelai. Fungsi-fungsi yang lain merupakan muatan budaya yang erat kaitannya dengan hiburan atau tontonan. MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49 DAFTAR PUSTAKA Adisarwono,S., Bambang S. Purwoko, BA. 1992. Sejarah Banyumas. Purwokerto : UD Satria Utama Arwan Tuti Artha, Heddy Shri Ahimsa-Putra. 2004. Sejuta Warisan Budaya. Yogyakarta : Kunci Ilmu Fuad Hasan. 1989. Renungan Budaya. Jakarta : Balai Pustaka Koentjaraningrat. 2002. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Supriyadi, Drs. 1993. Begalan. Purwokerto : UD Satria Utama MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49

Ebeg is traditional culture

Ebeg merupakan bentuk kesenian tari daerah Banyumas yang menggunakan boneka kuda yang terbuat dari anyaman bambu. Tarian Ebeg di daerah Banyumas menggambarkan prajurit perang yang sedang menunggang kuda. Gerak tari yang menggambarkan kegagahan diperagakan oleh pemain Ebeg.
Diperkirakan kesenian Ebeg ini sudah ada sejak zaman purba tepatnya ketika manusia mulai menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang menguatkan Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah adanya bentuk-bentuk in trance (kesurupan) atau wuru. Bentuk-bentuk seperti ini merupakan ciri dari kesenian yang terlahir pada zaman animisme dan dinamisme.

Atraksi

Di dalam suatu sajian Ebeg akan melalui satu adegan yang unik yang biasanya di tempatkan di tengah pertunjukan. Atraksi tersebut sebagaimana dikenal dalam bahasa Banyumasan dengan istilah Mendhem (in trance). Pemain akan kesurupan dan mulai melakukan atraksi-atraksi unik. Bentuk atraksi tersebut seperti halnya: makan Beling atau pecahan kaca, makan dedaunan yang belum matang, makan daging ayam yang masih hidup, berlagak seperti monyet, ular, dan lain-lain.

Alat musik

Pertunjukan Ebeg biasanya diiringi dengan alat musik yang disebut Bendhe. Alat musik ini memiliki ciri fisik seperti gong akan tetapi berukuran lebih kecil terbuat dari logam.

Perkembangan terkini

Akibat perkembangan budaya di Banyumas dan orentasi suatu seni pertunjukan juga yang dalam tahap awal merupakan sarana ritual telah bergesear pada bisnis seni pertunjukan, pembenahan dalam Ebeg pun segera dilakukan. Penataan pada Ebeg yang dapat meliputi bentuk iringan, penghalusan gerak tari, kostum ataupun propertinya banyak dilakukan oleh seniman Banyumas.
ebeg merupakan kesenian tradisional,sudah ada sejak abad 9 sekitar 1000 tahun yang lalu.