Begalan Tradisi Banyumas
Kontribusi Dari Amin Hidayat
Tuesday, 08 December 2009
Istilah begalan, berasal dari kata begal, artinya sama dengan perampok. Jadi orang yang pekerjaanya merampas barang
orang lain disebut merampok atau membegal. Begalan bukan berarti merampas barang orang lain, tetapi justru
hakekatnya menjaga keselamatan apabila nanti ada roh-roh jahat datang untuk mengganggunya. Istilah begalan di sini
sebagai syarat atau krenah/ pengruwat guna menghindari segala kekuatan-kekuatan gaib yang mengancam
keselamatan kedua mempelai. Begalan diartikan dengan ucapan kebegalan sambekalanipun, maksudnya dijauhkan dari
segala mara bahaya, ...............
Seni begalan dipertunjukkan apabila seseorang mempunyai hajat mengawinkan anak sulung dengan anak sulung, anak
bungsu dengan anak sulung atau anak bungsu dengan anak bungsu. Hal semacam itu merupakan suatu pantangan,
apabila perkawinan seperti itu terjadi, perlu diadakan begalan. Seni begalan ini biasanya dilakukan pada sore hari,
kurang lebih pukul empat sore. Pada umumnya orang Jawa tidak lepas dari perhitungan-perhitungan menurut cara
kejawen atau kepercayaan naluri. Segala sesuatu diperhitungkan dengan teliti, baik waktu, hari, bulan sampai tahun.
Sebenarnya seni begalan pada jaman dahulu diadakan oleh para demang, dimana kekuasaan demang pada waktu itu
adalah mutlak berbuat seperti raja. Setiap perintahnya harus cepat atau segera dilaksanakan. Itu, rakyat beranggapan
bahwa seni begalan adalah merupakan warisan dari para leluhur Banyumas yang tidak boleh ditinggalkan. Oleh karena
sangat taatnya sehingga seseorang yang sebenarnya kurang mampu untuk mengadakan hal itu lalu mengada-ada.
Mereka beranggapan apabila dapat mengadakan hal tersebut di atas mereka bangga dan terpandang.
A. Prosesi Opera Begalan
Syarat tentang tempat untuk keperluan pertunjukkan tidak memerlukan tempat yang khusus atau mewah. Tidak perlu
mendirikan panggung, cukup dihalaman rumah, tanpa dekor. Tata pakaian dan tata rias sangat sederhana. Pakaian
cukup baju koko hitam, celana komprang hitam, stagen dan sabuk, kain atau sarung, sampur dan iket wulung (hitam).
Sedang perlengkapan yang dipergunakan yaitu Wlira dan Brenong Kepang. Wlira yaitu alat yang berujud pedang,
dipergunakan sebagai pemukul. Panjang Wlira 1 meter, tebal 2 centi meter dan lebar 4 centimeter. Bahan yang
dipergunakan dari ruyung atau pohon pinang. Pembawa Wlira adalah si begal dari pihak mempelai wanita dengan nama
Suradenta. Pengantar mempelai laki-laki yang membawa peralatan-peralatan Brenong Kepang bernama Surantani atau
Jurutani.
Brenong Kepang merupakan sepikul alat-alat dapur. Masing-masing alat-alat dapur itu memiliki makna kias tersendiri.
Adapun macam-macam alat dapur tersebut yaitu wangkring atau pikulan, ian dan ilir, cething, kukusan, kalo, tampah,
sorok, cethong, irus, siwur, kendil, pala pendem, pala gumantung, dan seikat padi.
Kebiasaan orang Banyumas, sebelum pertunjukkan dimulai didahului dengan mengadakan (menyajikan ) sesajen
dengan membakar kemenyan disertai pembacaan mantra-mantra. Maksud sesajen itu supaya selama berhajat dan
waktu mempelai disandingkan selamat, tidak ada gangguan apapun juga. Macam sesajian yang biasa diadakan yaitu :
1. Tumpeng sewu, yaitu tumpeng kecil yang jumlahnya seribu. Tetapi di sini tidak harus berjumlah seribu, arti bilangan
seribu hanya untuk menunjukkan jumlah banyak.
2. Panggang emas, yaitu panggang dari ikan emas yang dibakar tidak diberi bumbu.
3. Kembang telon, yaitu bunga yang tediri dari tiga macam; bunga mawar merah, bunga kanthil, dan bnga kenanga.
4. Pisang, meliputi pisang ambon, pisang emas dan pisang raja.
5. Candu
6. Wedang pitu, yaitu tujuh macam minutan; kopi pahit, kopi manis, teh pahit, teh manis, air putih, air bunga dan wedang
jembawuk.
7. Bubur abang dan bubur putih, nasi lembek (bubur) warna merah dan putih.
8. Rakan
9. Krawu menir, yaitu nasi menir yang diberi kelapa.
MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas
http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49
10. Kaca pengilon dan pupur (bedak)
11. Pepesan bekatul
12. Minyak Wangi
13. Kemenyan
14. Tebu
15. Cengkir Gading (kelapa muda gading)
16. Beras kuning
17. Ayam tulak, yaitu ayam berbulu hitam semuanya, hanya pada sayapnya saja yang ada sedikit putih.
18. Dawegan kelapa hijau, yaitu kelapa muda kulitnya berwarna hijau.
Macam-macam sesajian ini biasanya diletakkan ditempat yang tidak terjangkau oleh pengunjung atau tamu. Sering
ditempatkan di bagian dapur atau dekat mempelai disandingkan.
Jalannya pertunjukkan, kedua penari Suradenta dan Surantani dengan membawa peralatannya masuk sambil menari ke
tempat pentas diiringi gendhing kricik-kricik. Setelah gending suwuk (berhenti), salah satu dari penari, biasanya
Suradenta, memperkenalkan diri, menceritakan maksud dan tujuannya mengadakan begalan. Penari berdialog
menanyakan nama dan maksudnya, lalu minta gendhing Gunungsari. Di sinilah Surantani menjelaskan panjang lebar
sanepa (makna kias) dari semua isi brenong kepang. Satu persatu dijelaskan dengan jelas arti dari Ian, ilir sampai seikat
padi atau hasil bumi. Intinya berisi nasehat untuk mempelai berdua dalam membangun rumah tangganya agar nantinya
langgeng sampai kakek-kakek nenek-nenek.
Saat terjadi pertengkaran adu mulut, diiringi gendhing Pisang Balik. Pada waktu gendhing suwuk, pertengkaran
berbuntut perkelahian diiringi gendhing Renggong Kulon. Selesai perkelahian, diakhiri dengan pemecahan kendil yang
berisi beras kuning, pertanda rejeki bagi mempelai kelak akan senantiasa melimpah, kemudian isi brenong kepang
diperebutkan oleh penonton. Mereka meyakini, bila mendapat barang dari brenong kepang akan mendapat sawab (
berkah ). Alunan gendhing Eling-eling Banyumasan mengakhiri opera begalan ini.
Maka tampak jelas, seni begalan di Banyumas memiliki kekhasan tersendiri. Baik masalah pemeran, perlengkapan,
maupun penyajian ternyata memiliki keunikkan dan penuh perhitungan yang dikaitkan dengan kesakralan. Hal seperti ini
tidak dijumpai di daerah lain, kecuali semacam upacara ruwatan melalui pertunjukkan wayang. Menurut Ki Sugino
Siswocarito, begalan dalam dunia pewayangan pada perang kembang atau perang sintren sangatlah berbeda. Perang
kembang dalam pewayangan adalah peperangan antara seorang ksatria melawan raksasa atau biasa disebut buta
begal.
B. Kajian Fungsi
1. Fungsi Historis
Fungsi historis adalah menurut tinjauan sejarah, mengenai asal usul seni begalan di Banyumas sekitar abad ke 19, yaitu
sejak Adipati Banyumas mengawinkan putranya Pangeran Tirtokencono dengan putri bungsu Adipati Wirasaba yaitu
Dewi Sukesi. Seminggu setelah perkawinan sang Adipati Banyumas berkenan memboyong putranya dari Wirasaba ke
Kadipaten Banyumas, istilah Jawa disebut ngunduh penganten.
Perjalanan ke Banyumas ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 20 kilometer. Di daerah hutan belantara yang terkenal
angker/ wingit, tiba-tiba mereka dicegat oleh orang yang berpakaian hitam, celana komprang hitam, berikat kepala dan
membawa golok. Orang tersebut bermaksud hendak merampas semua barang, alias merampok atau membegal. Mata
terjadilah pertengkaran mulut dilanjutkan perkelahian. Akhirnya begal dapat dikalahkan, lari tunggang langgang tanpa
dikejar.
Setelah pagi hari sampailah mereka di Kadipaten Banyumas. Riwayat perjalanan boyongan mempelai dari Wirasaba ke
Banyumas menjadi pelajaran berharga. Kemudian sesepuh Banyumas berpesan seyogyanya apabila mengawinkan
anaknya yang sulung mendapat jodoh anak bungsu agar diadakan Begalan supaya selamat.
Tahun timbulnya seni Begalan di Banyumas sulit ditentukan, mengingat Adipati di Banyumas sendiri ada 17 turunan.
MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas
http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49
Pada buku Sejarah Banyumas, yang disusun oleh S. Adisarwono dan Bambang S. Purwoko, (1992: 39) secara
kronologis menyajikan data para Adipati/ Bupati yang bergantian menjabat di kabupaten Banyumas, yaitu :
1. R. Djoko Kaiman / R. Djoko Semangun/ R. Adipati Warga Utama II mendapat julukan Adipati Marapat tahun 1582.
2. R. Ngabehi Mertasura I/ R. Adipati Djanah I tahun 1583 – 1600.
3. R. Ngabehi Mertasura II / R. Adipati Djanah II, dijuluki R. Ngabehi Kaligethuk, tahun 1601-1620.
4. R. Adipati Mertajoeda I / R. Ngabehi Bawang, tahun 1620 – 1650.
5. R. Tumenggung Mertajoeda II, R.T Mertanegara/ R.T. Kokoem/ R.T. Seda Mesjid, nama paringan R. Tumenggung
Joedanegara I tahun 1650 – 1705.
6. R. Tumenggung Soeradipoera, tahun 1743-1749.
7. R. Tumenggung Joedanegara II (Seda Pendapa) tahun 1708 – 1743.
8. Raden Tumenggung Reksaprodjo, tahun 1743-1749.
9. R. Tumenggung Joedanegara III, tahun 1749 – 1755, kemudian diangkat menjadi Patih kasultanan Yogyakarta
dengan nama Danoeredjo I.
10. R. Tumenggung Joedanegara IV tahun 1755 – 1780.
11. R. Tumenggung Tedjakusuma tahun 1780-1788, beliau bukan darah Banyumas tetapi berasal dari Mangkunegaran
Surakarta, mendapat sebutan Tumenggung Kemong.
12. R. Tumenggung Joedanegara V tahun 1788-1816. Setelah beliau, Kabupaten Banyumas dibagi menjadi dua wilayah
yaitu Kasepuhan dan Kanoman, masing-masing diperintah oleh kepala wilayah dengan sebutan Wedana Bupati.
13. a. R. Adipati Tjokrowedono tahun 1816 – 1830, beliau berasal dari Surakarta Wedana Bupati Kasepuhan
membawahi daerah Adiredja, Adipala, Purwokerto sebagian daerah Kabupaten Panjer atau Kebumen, sebagian
Kabupaten Banjarnegara.
b. R.T. Mertadiredja/ R. Adipati Brotodiningrat tahun 1816-1830, Wedana Bupati Kanoman membawahi daerah Panjer/
Kebumen, sebagian Banjarnegara.
14. R.T mertadiredja II tahun 1831 – 1832 kemudian dipindah menjabat Bupati Purwokerto berkedudukan di
Ajibarang.
15. R. Adipati Tjakranegara I tahun 1832-1864 (keturunan Kasepuhan)
16. R. Adipati Tjakranegara II, tahun 1864-1879 (keturunan Kasepuhan)
17. Kanjeng Pangeran Arya Mertadiredja III tahun 1879-1913 (pindahan dari Purwokerto).
Berdasar sejarah banyumas, maka asal usul seni begalan, sekitar abad ke 19, berarti bertepatan masa pemerintahan
Kanjeng Pangeran Arya Mertadiredja III. Masa pemerintahannya paling lama, 53 tahun. Beliau wafat tanggal 19 Maret
1927, dimakamkan di Kalibagor, 2 km sebelah barat kota Purwokerto.
2. Fungsi Religi
Menurut orang Banyumas, seni begalan erat kaitannya dengan religi, yaitu kepercayaan seandainya tidak diadakan
begalan mempelai akan terancam oleh kekuatan-kekuatan yang ada di luar diri mereka. Dalam hal ini seperti ruwatan,
bila tanpa ruwatan akan menjadi mangsa Bethara Kala. Dahulu para pemain seni Begalan tidak dibayar atau hanya
sekedar menolong saja, sebab mereka menginsafi bahwa hal itu adalah merupakan kepentingan upacara adat. Jadi
mereka dianggap sebagai pawang, sebagai orang yang dapat mendekati leluhur atau roh-roh halus agar supaya jangan
mengganggu jalannya upacara perkawinan (Supriyadi.1993: xii).
MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas
http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49
Kebiasaan orang Banyumas, sebelum pertunjukkan seni begalan dimulai, didahului dengan mengadakan sesajian
(sajen), dengan membakar kemenyan disertai pembacaan mantra-mantra. Maksud sesajian itu supaya selama berhajat
dan waktu mempelai disandingkan selamat, tidak ada gangguan apapun juga.
3. Fungsi Pendidikan
Tujuan utama seni begalan justru banyak dari fungsi pendidikan khususnya bagi mempelai berdua. Intinya berisi nasehat
dari Suradenta dan Surantani supaya mempelai dalam berkeluarga nanti dapat rukun dan damai, seperti pepatah Jawa
mengatakan, ’kaya dene mimi lan mintuna nganti tekan kaken-kaken ninen-ninen’, yang artinya hidup
rukun sampai akhir nanti.
Brenong Kepang dan Wlira ternyata memiliki sanepo atau makna kias tinggi yang bermuatan pendidikan. Menurut Dibyo
Suwignyo, pemeran Suradenta, bahwa :
1. Wlira, menggambarkan orang yang bersenjata wlira sebagai sosok yang berani menghadapi segalanya yang
menyangkut keluarga, dan bertanggung-jawab.
2. Wangkring atau pikulan, maksud yang terkandung adalah apabla seseorang akan menjalankan hidup bersuami istri
sebelumnya harus dipertimbangkan terlebih dahulu, supaya nanti bila menghadapi keadaan enak atau tidak enak dipikul
bersama-sama.
3. Ian-ilir, biasanya untuk membuat nasi angi atau nasi golong, memiliki arti bahwa dengan bersuami istri berarti
menggabungkan 2 keluarga besar menjadi satu, dan supaya dapat membedakan mana perbuatan buruk mana
perbuatan yang baik. Ilir biasanya untuk mengipas agar nasi cepat dingin, maksudnya dalam berkeluarga yang satu
emosi, yang lainnya dapat mendinginkan. Ian menggambarkan lebarnya jagad, dari Baratke Timur, Utara ke selatan,
artinya dalam berkeluarga harus bisa bermasyarakat.
4. Siwur, bila isnya penuh airnya akan tumpah (Banyumas : mawur), maknanya bila memiliki banyak rejeki, sebagian
harus diibadahkan, jangan boros.
5. Ciri dan Muthu ( Cobek dan ulegan), fungĂs menggerus bumbu, ada garam, cabe, gula, trasi, bawang memiliki arti
mempelai memiliki dua pemikiran yang berbeda harus bisa menjadi satu rasa, segala sesuatu diselesaikan dengan
musyawarah.
6. Kusan (kukusan), memiliki sudut 5, ujungnya lancip menggambarkan Ibadan sholat lima waktu, untuk mencapai tujuan
karena sang Maha Kuasa. Gunanya untuk menanak nasi, artinya sebelum membuat keputusan dalam keluarga harus
dipikir sampai matang.
7. Kendil berisi beras kuning, terbuat dari tanah fungsi kendil mengambil air, melambangkan bahwa kita dari tanah,
sebelum kembali ke tanah harus menimba sebanyak-banyaknya amalan untuk sangu di akherat. Beras kuning, bebasan
kinuber ing seger waras, kabeh laku kudu tansah di ening... Artnya sebelum kita melakukan apapun, agar selamat harus
berdoa pada yang Maha Kuasa.
8. Irus, kreta basa aja iri terus, artinya mempelai nantinya harus bisa menahan godaan hawa nafsu terhadap lingkungan,
jangan iri, dengki dan sombong.
9. Pala pendem, dan padi memiliki makna bahwa suami wajib memberi nafkah istri, padi yang semakin berisi dan
menunduk artinya tidak boleh sombong, dan suami atau istri harus mantap tidak boleh tergoda lelaki atau perempuan
yang lain.
4. Fungsi Sosial
Tradisi atau ketentuan adat bila tidak dijalankan, oleh masyarakat khususnya Banyumas terkait dengan seni begalan
akan menjadi gunjingan atau cibilan. Lingkungan akan mendiga-duga gerangan musibah apa yangakan menimpa
mempelai yang seharusnya ada ketentuan begalan tetapi tidak melakukan. Namun sebaliknya bila melakukan ketentuan
adat dengan mengadakan begalan, masyarakat sekitar akan ikut senang, minimal bisa melihat tontonan begalan
sebagai hiburan.
Seseorang merasa bangga apabila dapat menjalankan tradisi yang dianggap wewaler darinenek moyangnya. Di mata
masyarakat, status sosial dipandang terhormat dan merasa terpandang.
MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas
http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49
5. Fungsi Kesenian
Seni begalan merupakan opera rakyat Banyumas yang syarat dengan nilai seni. Dari cara berpakaian menggunakan
sampur, wajah di rias ssuai karakter. Suradenta biasanya dirias dengan karakter galak atau sangar. Perlengkapan
seperti wlira dan brenonng kepang juga ditata sedemikian rupa dan dihias. Prosesi atau penyajian diwarnai tarian, diaog
yang menegangkan bercampur kocak akting pelaku.Ini semata merupakan hiburan penolak bala pada upacara
pernikahan.
Apalagi diiringi seperangkat gamelan yang mengalunkan gendhing-gendhing Banyumasan. Dialog Suradenta dan
Surantani yang dramatis diikuti tariannya yang mengikuti gendhing, semakin enak sebagai hiburan. Terkadang diseliki
banyolan kocak dan tarian lucu membuat penonton terpingkal-pingkal. Pada akhir pertunjukkan beramai memperebutkan
isi Brenong Kepang.
6. Fungsi Ekonomi
Seni begalan sebagai tontonan tentunya akan mengundang pengunjung. Suara gendhing seakan memanggil
masyarakat di sekitar untuk hadir. Laki-laki-perempuan, tua –muda, besar – kecil berbondong-bondong
untuk menonton. Hal ini terjadi jaman dulu, saat Banyumas belum mengenal televisi, apalagi internet. Mereka sangat
haus hiburan, sehingga upacara perkawinan, apalagi ada seni begalan merupakan tontonan gratis yang sangat
menghibur.
Dengan banyaknya penonton otomatis banyak orang mengais rejeki melalui berdagang. Bermunculan pedagang
kagetan (dadakan) menjual makanan tradisional, mainan anak-anak sampai peralatan dapur. Keuntungan yang mereka
dapatkan cukup besar. Maka seni begalan waktu itu memiliki fungsi ekonomi.
Secara ekonomis, pengadaan opera begalan lebih hemat dibanding pengadaan pagelaran wayang bagi sipunya hajat
ruwatan. Pagelaran wayang bisa memakan dana lima sampai sepuluh kali lipat dibanding biaya untuk begalan. Dewasa
ini, biaya begalan untuk pelaku dan oborampe cukup menghabiskan Rp. 500.000,00 – Rp. 1.000.000,00
sedangkan untuk pengadaan pertunjukkan wayang bisa menghabiskan lebih dari Rp. 12.000.000,00.
Opera begalan untuk saat ini sudah cenderung sebagai profesi dengan tarif tertentu bagi pemeran. Dari segi ekonomi,
bagi pemeran sekali main cukup menguntungkan. Jika satu bulan dapat order 5 kali main, pemeran Surodenta dan
Surontani dapat mengantongi Rp. 1.500.000 bersih dalam satu bulan.
C. PENUTUP
Seni begalan di Banyumas merupakan pertunjukkan sebagai ketentuan adat yang digunakan untuk meramaikan
upacara perkawinan. Kekhasan dan mutu seni begalan masyarakat Banyumas memiliki muatan multi fungsi, maka
sangatlah layak dikatakan sebagai Kebudayaan Nasional Indonesia, sebagaimana rambu-rambu yang dikemukakan
Kuntjaraningrat.
Fungsi seni begalan masyarakat Banyumas bila dipahami lebih jauh memiliki pembelajaran jauh ke depan, terutama bagi
mempelai berdua. Bila tidak diselenggarakan begalan, kedua mempelai kurang atau buta akan hakekat kehidupan
berumah tangga. Fungsi pendidikan disini sangat berperan dan bermanfaat bagi mempelai. Fungsi-fungsi yang lain
merupakan muatan budaya yang erat kaitannya dengan hiburan atau tontonan.
MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas
http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49
DAFTAR PUSTAKA
Adisarwono,S., Bambang S. Purwoko, BA. 1992. Sejarah Banyumas. Purwokerto :
UD Satria Utama
Arwan Tuti Artha, Heddy Shri Ahimsa-Putra. 2004. Sejuta Warisan Budaya.
Yogyakarta : Kunci Ilmu
Fuad Hasan. 1989. Renungan Budaya. Jakarta : Balai Pustaka
Koentjaraningrat. 2002. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama
Supriyadi, Drs. 1993. Begalan. Purwokerto : UD Satria Utama
MGMP IPS SMP Kabupaten Banyumas
http://mgmpipsbanyumas.net46.net Menggunakan Joomla! Generated: 28 September, 2012, 03:49