Kamis, 27 September 2012

Cowongan

Tradisi Minta Hujan Di Musim Kemarau
Kondisi kemarau panjang di Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas benar-benar telah mengeringkan seluruh lahan pertanian. Benih padi yang baru beberapa minggu sebelumnya ditanam, telah menguning di batang dan pucuk daunnya. Sementara di sebagian sudut desa, sumber-sumber air pun telah berkurang dan berwarna keruh kecoklatan akibat tercampur tebalnya debu. Di saat seperti inilah warga Rawalo hanya bisa memohon kemurahan Yang Maha Kuasa melalui Dewi Sri (dewi padi) agar sesegera mungkin hujan diturunkan melalui tradisi meminta hujan yang telah diwariskan turun-temurun oleh moyang mereka yaitu Cowongan.
Hampir mirip dengan jelangkung, cowongan dibuat dari irus atau gayung dari tempurung kelapa, kukusan, kayu, dan bambu, yang disusun menyerupai boneka pengusir burung yang dipasang di tengah-tengah sawah, cowongan juga dilengkapi dengan pakaian yang didominasi warna hitam dan corak batik kecoklatan.
Menurut Mbah Kitem, sesepuh desa yang juga sebagai pawang hujan, sebelum melaksanakan tradisi itu, harus ada syarat yang wajib dipenuhi. Seluruh rangken (bekas jari-jari atap rumah dari bambu) yang masih difungsikan warga harus dimusnahkan. ”Itu permintaan dari Dewi Sri. Warga harus menyanggupi karena menurut Dewi Sri batang bambu yang sudah rusak akan menahan turunnya hujan,” ujar sang pawang.
Hingga pada suatu malam di puncak musim kemarau, Hadi Santoso, Kasbi, Ahmad Sukandar, dan para tokoh sesepuh desa lainnya, terlihat begitu sibuk membuat sebuah boneka cowongan. Sementara di halaman depan, belasan pemuda tengah membersihkan peralatan musik khas jawa yang biasa disebut gamelan. Peralatan tersebut disiapkan untuk mengiringi doa-doa permohonan hujan dalam ritual cowongan yang akan digelar hanya pada malam hari. Sedangkan bagi seluruh warga yang terlibat dalam hajatan besar tersebut, melaksanakan syarat yang diajukan oleh Mbah Kitem. Semua rangken di lingkungan kampung dan sawah diambil. Lalu dimusnahkan di samping lahan pekuburan milik desa. Uniknya, warga hanya boleh melakukan pembersihan ini pada malam hari, sesaat sebelum cowongan dimulai itupun dengan penerangan cahaya obor.
Saat waktu telah menunjukkan pukul 21.00 wib, pelataran luas di depan rumah sesepuh desa pun telah dipenuhi oleh ribuan warga setempat dan daerah sekitar yang tertarik melihat tradisi yang sangat jarang dilakukan. Tidak hanya kalangan tua yang hadir dalam prosesi ini, para pemuda dan anak-anak juga sudah rela berdesak-desakan di samping panggung tempat ritual cowongan akan digelar. Dari sekian banyak penonton yang datang, ternyata tidak ada satupun yang mengenakan busana berwarna merah. Menurut mereka, warna merah dapat mengundang kemarahan dari arwah yang hadir dalam prosesi tersebut karena merasa ditantang sehingga si pemakai busana merah seringkali kerasukan.
Sekitar pukul 22.00 wib, ritual pun dimulai. Tiga orang wanita muda keluar dari rumah Mbah Kitem dengan diiringi belasan wanita dan lelaki separo baya. Secara bersamaan, tiga gadis muda ini memegangi tali stagen yang semua bagian ujungnya diikatkan pada cowongan. Syarat untuk menggendong boneka cowongan pun haruslah para wanita yang masih perawan. Selain itu, saat prosesi dilakukan, mereka harus dalam keadaan suci atau tidak sedang datang bulan.
Seiring dengan keluarnya tiga penari ini, sayup-sayup terdengar suara nyayian jawa yang merupakan bagian dari doa-doa agar roh Dewi Sri dan Dewi Larasati (dewi kesejahteraan) bersedia memasuki boneka cowongan dan berkomunikasi dengan warga agar permasalahan kekeringan yang melanda dapat teratasi.
”Cowong-cowong penentang, penintange tali gandek, gandek mandek-mandek, midondangi jaluk pitulung marang Nyi Ratu, kanggo njaluk udan, ayuh gagiyan reg-regan rog-rogan”. Begitu seterusnya sambil sesekali diselilingi lagu Lir-ilir.
Tidak lama berselang, boneka cowongan mulai bergetar dan bergerak tidak tentu arah mengikuti liukan asap dupa. Gerakan boneka ini terlihat sangat merepotkan para gadis yang memegangnya. Terkadang mereka harus rela berlari menuju kerumunan penonton demi menuruti keinginan roh dalam cowongan untuk sekedar menunjukan eksistensi alam mereka dalam berinteraksi dengan alam manusia.
Apakah ada pertanda dari alam jika keinginan warga untuk mendapatkan hujan akan terkabul? Menurut Mbah Kitem, sesuai dengan tradisi yang telah ada, biasanya sebelum ritual cowongan berakhir, akan bertiup angin dingin serta muncul kilat dari arah gunung Slamet.
Apabila pertanda itu telah muncul, hanya dalam beberapa waktu setelah cowongan selesai dilaksanakan, biasanya hujan akan turun,” tutur Mbah Kitem.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar