Cowongan
Tradisi Minta Hujan Di Musim Kemarau
Kondisi
kemarau panjang di Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas benar-benar
telah mengeringkan seluruh lahan pertanian. Benih padi yang baru
beberapa minggu sebelumnya ditanam, telah menguning di batang dan pucuk
daunnya. Sementara di sebagian sudut desa, sumber-sumber air pun telah
berkurang dan berwarna keruh kecoklatan akibat tercampur tebalnya debu.
Di saat seperti inilah warga Rawalo hanya bisa memohon kemurahan Yang
Maha Kuasa melalui Dewi Sri (dewi padi) agar sesegera mungkin hujan
diturunkan melalui tradisi meminta hujan yang telah diwariskan
turun-temurun oleh moyang mereka yaitu Cowongan.
Hampir mirip dengan jelangkung, cowongan dibuat dari irus
atau gayung dari tempurung kelapa, kukusan, kayu, dan bambu, yang
disusun menyerupai boneka pengusir burung yang dipasang di tengah-tengah
sawah, cowongan juga dilengkapi dengan pakaian yang didominasi warna
hitam dan corak batik kecoklatan.
Menurut
Mbah Kitem, sesepuh desa yang juga sebagai pawang hujan, sebelum
melaksanakan tradisi itu, harus ada syarat yang wajib dipenuhi. Seluruh rangken
(bekas jari-jari atap rumah dari bambu) yang masih difungsikan warga
harus dimusnahkan. ”Itu permintaan dari Dewi Sri. Warga harus
menyanggupi karena menurut Dewi Sri batang bambu yang sudah rusak akan
menahan turunnya hujan,” ujar sang pawang.
Hingga
pada suatu malam di puncak musim kemarau, Hadi Santoso, Kasbi, Ahmad
Sukandar, dan para tokoh sesepuh desa lainnya, terlihat begitu sibuk
membuat sebuah boneka cowongan. Sementara di halaman depan, belasan
pemuda tengah membersihkan peralatan musik khas jawa yang biasa disebut
gamelan. Peralatan tersebut disiapkan untuk mengiringi doa-doa
permohonan hujan dalam ritual cowongan yang akan digelar hanya pada
malam hari. Sedangkan bagi seluruh warga yang terlibat dalam hajatan
besar tersebut, melaksanakan syarat yang diajukan oleh Mbah Kitem. Semua
rangken di lingkungan kampung dan sawah diambil. Lalu dimusnahkan di
samping lahan pekuburan milik desa. Uniknya, warga hanya boleh melakukan
pembersihan ini pada malam hari, sesaat sebelum cowongan dimulai itupun
dengan penerangan cahaya obor.
Saat
waktu telah menunjukkan pukul 21.00 wib, pelataran luas di depan rumah
sesepuh desa pun telah dipenuhi oleh ribuan warga setempat dan daerah
sekitar yang tertarik melihat tradisi yang sangat jarang dilakukan.
Tidak hanya kalangan tua yang hadir dalam prosesi ini, para pemuda dan
anak-anak juga sudah rela berdesak-desakan di samping panggung tempat
ritual cowongan akan digelar. Dari sekian banyak penonton yang datang,
ternyata tidak ada satupun yang mengenakan busana berwarna merah.
Menurut mereka, warna merah dapat mengundang kemarahan dari arwah yang
hadir dalam prosesi tersebut karena merasa ditantang sehingga si pemakai
busana merah seringkali kerasukan.
Sekitar
pukul 22.00 wib, ritual pun dimulai. Tiga orang wanita muda keluar dari
rumah Mbah Kitem dengan diiringi belasan wanita dan lelaki separo baya.
Secara bersamaan, tiga gadis muda ini memegangi tali stagen yang semua
bagian ujungnya diikatkan pada cowongan. Syarat untuk menggendong boneka
cowongan pun haruslah para wanita yang masih perawan. Selain itu, saat
prosesi dilakukan, mereka harus dalam keadaan suci atau tidak sedang
datang bulan.
Seiring
dengan keluarnya tiga penari ini, sayup-sayup terdengar suara nyayian
jawa yang merupakan bagian dari doa-doa agar roh Dewi Sri dan Dewi
Larasati (dewi kesejahteraan) bersedia memasuki boneka cowongan dan
berkomunikasi dengan warga agar permasalahan kekeringan yang melanda
dapat teratasi.
”Cowong-cowong
penentang, penintange tali gandek, gandek mandek-mandek, midondangi
jaluk pitulung marang Nyi Ratu, kanggo njaluk udan, ayuh gagiyan
reg-regan rog-rogan”. Begitu seterusnya sambil sesekali diselilingi lagu Lir-ilir.
Tidak
lama berselang, boneka cowongan mulai bergetar dan bergerak tidak tentu
arah mengikuti liukan asap dupa. Gerakan boneka ini terlihat sangat
merepotkan para gadis yang memegangnya. Terkadang mereka harus rela
berlari menuju kerumunan penonton demi menuruti keinginan roh dalam
cowongan untuk sekedar menunjukan eksistensi alam mereka dalam
berinteraksi dengan alam manusia.
Apakah
ada pertanda dari alam jika keinginan warga untuk mendapatkan hujan
akan terkabul? Menurut Mbah Kitem, sesuai dengan tradisi yang telah ada,
biasanya sebelum ritual cowongan berakhir, akan bertiup angin dingin
serta muncul kilat dari arah gunung Slamet.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar